Program

Tabarru‟ berasal dari kata tabarra’a-yatabarro’u-tabarrau’an, artinya sumbangan hibah, dana kebajikan, atau derma. Orang yang memberikan sumbangan disebut mutabarri’ “dermawan”. Tabarru’ merupakan pemberian sukarela seseorang kepada orang lain tanpa ganti rugi, yang mengakibatkan berpindahnya kepemilikan harta itu dari pemberi kepada orang yang diberi.

Tabarru’ dalam arti luas adalah mengerahkan segala daya dan upaya untuk memberikan harta atau manfaat kepada orang lain baik langsung atau dimasa yang akan datang tanpa mengharapkan kompensasi dengan tujuan semata-mata untuk kebaikan dan perbuatan amal shaleh. Jumhur ulama mendefinisikan tabarru’ dengan akad yang mengakibatkan pemilik harta, tanpa ganti rugi yang dilakukan seseorang dalam keadaan hidup kepada orang lain secara sukarela.

Niat tabarru’ (dana kebajikan) dalam akad adalah alternatif uang sah yang dibenarkan oleh syara‟ dalam melepaskan diri dari praktik gharar yang diharamkan oleh Allah SWT. Menurut jumhur ulama, menunjukkan (hukum) anjuran untuk saling membantu antar sesama manusia, oleh sebab itu islam sangat menganjurkan seseorang yang mempunyai kelebihan harta untuk menghibahkannya kepada saudara-saudara yang memerlukan.

Sedangkan dalam konteks akad dalam tabarru’ memberikan dana kebajikan dengan niat ikhlas untuk tujuan saling membantu diantara sesama peserta apabila ada diantaranya mendapat musibah. Dana klaim yang diberikan diambil dari rekening danatabarru’ yang sudah diniatkan oleh semua peserta ketika akan menjadi peserta , untuk kepentingan dana kebajikan atau dana tolong-menolong.

mendermakan sebagian harta dengan tujuan untuk membantu seseorang dalam menghadapi kesusahan sangat dianjurkan dalam agama Islam

sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an

(Q.S. Al-Ma’idah 5: 2)

“dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”

Berdasarkan al-quran (Q.S Al Attaubah 9:71)

“Dan orang-orang beriman,laki-laki dan perempuan sebagian mereka menjadi penolong yang lain “.

Membangun Sektor Keuangan

  1. Wakaf
  2. Infaq
  3. Sodaqoh

 

1. Wakaf

Pengertian dan Hukum Wakaf

Ditinjau dari segi bahasa wakaf berarti menahan. Sedangkan menurut istilah syara’, ialah menahan sesuatu benda yang kekal zatnya, untuk diambil manfaatnya untuk kebaikan dan kemajuan Islam. Menahan suatu benda yang kekal zatnya, artinya tidak dijual dan tidak diberikan serta tidak pula diwariskan, tetapi hanya disedekahkan untuk diambil manfaatnya saja.

Pengertian wakaf adalah menahan harta-benda sehingga menjadi hukum milik Allah ta’alaa, maka seseorang yang mewakafkan sesuatu berarti ia melepaskan kepemilikan harta tersebut dan memberikannya kepada Allah untuk bisa memberikan manfaatnya kepada manusia secara tetap dan kontinyu, tidak boleh dijual, dihibahkan, ataupun diwariskan.

Pelaksanaan Wakaf di Indonesia

Landasan

  1. Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik
  2. Peraturan Menteri dalam Negeri No. 6 Tahun 1977 tentang Tata Cara Pendaftaran Tanah mengenai Perwakafan Tanah Milik
  3. Peraturan Menteri Agama No. 1 Tahun 1978 Tentang Peraturan Pelasanaan Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik
  4. Peraturan Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam No. Kep/P/75/1978 tentang Formulir dan Pedoman Peraturan-Peraturan tentang Perwakafan Tanah Milik

Hukum wakaf sama dengan amal jariyah. Sesuai dengan jenis amalnya maka berwakaf bukan sekedar berderma (sedekah) biasa, tetapi lebih besar pahala dan manfaatnya terhadap orang yang berwakaf. Pahala yang diterima mengalir terus menerus selama barang atau benda yang diwakafkan itu masih berguna dan bermanfaat. Hukum wakaf adalah sunah. Ditegaskan dalam hadits:

اِذَا مَاتَ ابْنَ ادَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْ عِلْمٍ يَنْتَفَعُ بِهِ اَوْ وَلَدِ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ (رواه مسلم)

Artinya: “Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah semua amalnya, kecuali tiga (macam), yaitu sedekah jariyah (yang mengalir terus), ilmu yang dimanfaatkan, atu anak shaleh yang mendoakannya.”

(HR Muslim)

Harta yang diwakafkan tidak boleh dijual, dihibahkan atau diwariskan. Akan tetapi, harta wakaf tersebut harus secara terus menerus dapat dimanfaatkan untuk kepentingan umum sebagaimana maksud orang yang mewakafkan.

 

Syarat Wakaf

Syarat-syarat harta yang diwakafkan sebagai berikut:

  • Diwakafkan untuk selama-lamanya, tidak terbatas waktu tertentu (disebut takbid).
  • Tunai tanpa menggantungkan pada suatu peristiwa di masa yang akan datang. Misalnya, “Saya wakafkan bila dapat keuntungan yang lebih besar dari usaha yang akan datang”. Hal ini disebut tanjiz
  • Jelas mauquf alaih nya (orang yang diberi wakaf) dan bisa dimiliki barang yang diwakafkan (mauquf) itu
    Harta yang Diwakafkan

Wakaf meskipun tergolong pemberian sunah, namun tidak bisa dikatakan sebagai sedekah biasa. Sebab harta yang diserahkan haruslah harta yang tidak habis dipakai, tapi bermanfaat secara terus menerus dan tidak boleh pula dimiliki secara perseorangan sebagai hak milik penuh. Oleh karena itu, harta yang diwakafkan harus berwujud barang yang tahan lama dan bermanfaat untuk orang banyak, misalnya:

sebidang tanah

pepohonan untuk diambil manfaat atau hasilnya

bangunan masjid, madrasah, atau jembatan

 

2. Infaq

… Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir, ( Al-Baqarah 219 )

3. Sedekah

Bersal dari kata Sodaqo Siddiq artinya benar, tidak mungkin ada kecurangan didalamnya.

Maka harta yang disedekahkan harus dari sumber dan proses yang benar kerna fungsinya untuk membersihkan dan mensucikan diri yang bersedekah

Ambillah Sedekah dari sebagian harta mereka, dengan itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (surat : At-Taubah Ayat : 103)

Perintah Universal Wujud Islam Rahmatan Lil’alamin

Budha 20 %
Konghuchu 10 %
Kristen 10 %
Katolik 10 %
Islam 2,5 %
Dari penjelasan / uraian diatas maka kami dari PABU ( PUNDI AMAL BAKTI UMAT ) membuat suatu terobosan baru bagaimana agar masyarkat Indonesia gemar BERTABARRU dan BERWAKAF sehingga akan menjadi kebiasaan baik dimasyarakat tentang tabrru dan wakaf dan insaallah akan menjadi masyarakat yang kuat sekaligus menjadi bangsa yang kuat dan mandiri karna dibangun dengan kebersamaan dan tolong menolong.

Untuk itu PABU meluncurkan program KARTU TABARRU /TABARRU CARD

 

Hubungi Kami

Ingin Berkunjung ke PABU?

Kami sangat menghargai bagi siapapun untuk berkunjung ke Sekretariat kami pada jam kerja.

Yayasan Pundi Amal Bakti Ummat

Jl. Raya Ratna Rt 03/02 No. 84 D Kel. Jati Kramat, Kec. Jati Asih, Kota Bekasi Jawa Barat 17421
Telp. 021-88508885 HP
+6281389923296 / +6287878726676

Donasi ke PABU
WhatsApp chat